Kabupaten Sukabumi
SUKABUMI (KABAR SUKABUMI): Dugaan pungli oleh calo anggaran dalam penyaluran bantuan untuk pembangunan gedung SMK, Khaidir Dahlan, didatangi seseorang yang mengaku utusan dari terduga kelompok pelaku pungli. Orang misterius tersebut mendatangi Khaidir sambil membawa amplop yang isinya uang kontan serta kuitansi .
“Tadi sekitar pukul 10.00 WIB, orang tersebut datang ke tempat saya. Dia mengaku utusan dari orang yang menerima uang dari saya terkait dengan bantuan untuk SMK,” kata Khaidir ketika dihubungi Kamis (17/11).
Khaidir langsung menanyakan maksud kedatangan si utusan tersebut. Orang itu menjawab, mau mengembalikan uang milik Khaidir. Dia didesak untuk menerima uang tersebut dan meneken kuintasi. Mantan Kepala SMK Pertanian Kadudampit, Kabupaten Sukabumi ini menolak amplop dan kuintansi yang disodorkan si utusan.
“Saya jawab, kalau anda mau mengembalikan uang yang pernah saya setorkan, silakan serahkan kepada Kasi Intel Kejaksaan Negeri Cibadak, Pak Kahirudin. Persoalan ini harus lesaikan melalui jalur hukum,” tegas Khaidir.
Dia menaksir, isi amplop kalau berupa tumpukan lembaran seratus ribuan, jumlahnya melebihi Rp1,5 juta. Persisnya berapa? (Desak Wartawan). Kahidir tidak mengetahuinya.
Khaidir adalah salah seorang dari 81 kepala SMK yang menyerahkan uang transportasi sebesar Rp1,5 juta kepada kelompok calo anggaran yang konon memiliki power untuk mengatur alokasi bantuan pembangunan ruang kelas SMK.
“Saya pernah laporkan tentang pungutan ini langsung kepada Kepala Dinas Pendidikan. Tapi belum ada tanggapan dan tindak lanjut,” ujar Khaidir.
Seperti diberitkan beberapa media sebelumnya, Khaidir bermaksud untuk memperkarakan kelompok calo anggaran kepada aparat penegak hukum. Dia mempunyai setumpuk bukti berupa rekaman video dan notulen rapat. Para calo anggaran itu meminta uang pelicin dan fee sebesar 7,5 persen dari nilai bantuan.
Dalam operasinya, kelompok calo anggaran menerapkan dua macam setoran pada SMK yang ingin memperoleh bantuan dari Pemprov Jawa Barat atau Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (d/h Kementerian Pendidikan Nasional). Dua macam setoran itu terdiri dari transportasi dan komisi sebesar 7,5 persen.
Khaidir pernah menyerahkan uang transportasi sebesar Rp1,5 juta di Hotel Sheraton Media, Jalan Gunung Sahari Jakarta pada tanggal 3 November 2011. Pada saat itu di hotel tersebut sedang berlangsung penandatanganan MoU antara Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dengan SMK penerima bantuan.
Berdasarkan hitung-hitungan kasar, besarnya dana yang dihimpun kelompok tersebut mencapai lebih daripada Rp1 miliar. Di Kabupaten Sukabumi terdapat 46 SMK yang menerima bantuan dari pemerintah pusat dan 35 SMK yang menerima bantuan dari Pemprov Jawa Barat.
Jika rata-rata satu SMK menerima bantuan untuk 2 lokal yang besarnya Rp85 juta perlokal, total bantuan yang disalurkan ke Kabupaten Sukabumi mencapai 2 x Rp85 juta x 81 SMK atau sebesar Rp13.770.000.000. Dengan demikian, seluruh fee yang disetorkan SMK mencapai Rp1.032.750.000.
Ditambah dengan uang transportasi Rp1,5 juta persekolah, jumlah dana yang disetorkan ke kelompok calo anggaran seluruhnya mencapai Rp1.154.250.000. “Saya menilai dana sebesar itu termasuk gratifikasi untuk memperoleh bantuan,” ujar Khaidir. (Avhes)
“Tadi sekitar pukul 10.00 WIB, orang tersebut datang ke tempat saya. Dia mengaku utusan dari orang yang menerima uang dari saya terkait dengan bantuan untuk SMK,” kata Khaidir ketika dihubungi Kamis (17/11).
Khaidir langsung menanyakan maksud kedatangan si utusan tersebut. Orang itu menjawab, mau mengembalikan uang milik Khaidir. Dia didesak untuk menerima uang tersebut dan meneken kuintasi. Mantan Kepala SMK Pertanian Kadudampit, Kabupaten Sukabumi ini menolak amplop dan kuintansi yang disodorkan si utusan.
“Saya jawab, kalau anda mau mengembalikan uang yang pernah saya setorkan, silakan serahkan kepada Kasi Intel Kejaksaan Negeri Cibadak, Pak Kahirudin. Persoalan ini harus lesaikan melalui jalur hukum,” tegas Khaidir.
Dia menaksir, isi amplop kalau berupa tumpukan lembaran seratus ribuan, jumlahnya melebihi Rp1,5 juta. Persisnya berapa? (Desak Wartawan). Kahidir tidak mengetahuinya.
Khaidir adalah salah seorang dari 81 kepala SMK yang menyerahkan uang transportasi sebesar Rp1,5 juta kepada kelompok calo anggaran yang konon memiliki power untuk mengatur alokasi bantuan pembangunan ruang kelas SMK.
“Saya pernah laporkan tentang pungutan ini langsung kepada Kepala Dinas Pendidikan. Tapi belum ada tanggapan dan tindak lanjut,” ujar Khaidir.
Seperti diberitkan beberapa media sebelumnya, Khaidir bermaksud untuk memperkarakan kelompok calo anggaran kepada aparat penegak hukum. Dia mempunyai setumpuk bukti berupa rekaman video dan notulen rapat. Para calo anggaran itu meminta uang pelicin dan fee sebesar 7,5 persen dari nilai bantuan.
Dalam operasinya, kelompok calo anggaran menerapkan dua macam setoran pada SMK yang ingin memperoleh bantuan dari Pemprov Jawa Barat atau Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (d/h Kementerian Pendidikan Nasional). Dua macam setoran itu terdiri dari transportasi dan komisi sebesar 7,5 persen.
Khaidir pernah menyerahkan uang transportasi sebesar Rp1,5 juta di Hotel Sheraton Media, Jalan Gunung Sahari Jakarta pada tanggal 3 November 2011. Pada saat itu di hotel tersebut sedang berlangsung penandatanganan MoU antara Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dengan SMK penerima bantuan.
Berdasarkan hitung-hitungan kasar, besarnya dana yang dihimpun kelompok tersebut mencapai lebih daripada Rp1 miliar. Di Kabupaten Sukabumi terdapat 46 SMK yang menerima bantuan dari pemerintah pusat dan 35 SMK yang menerima bantuan dari Pemprov Jawa Barat.
Jika rata-rata satu SMK menerima bantuan untuk 2 lokal yang besarnya Rp85 juta perlokal, total bantuan yang disalurkan ke Kabupaten Sukabumi mencapai 2 x Rp85 juta x 81 SMK atau sebesar Rp13.770.000.000. Dengan demikian, seluruh fee yang disetorkan SMK mencapai Rp1.032.750.000.
Ditambah dengan uang transportasi Rp1,5 juta persekolah, jumlah dana yang disetorkan ke kelompok calo anggaran seluruhnya mencapai Rp1.154.250.000. “Saya menilai dana sebesar itu termasuk gratifikasi untuk memperoleh bantuan,” ujar Khaidir. (Avhes)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar